
Klik gambar untuk Preview Video
Untuk Video lengkap, Anda dapat memesan ke 021-7996767, CP. Andri | | Penerbit Al-Huda menyelenggarakan bedah buku “ZION-HOLLYWOOD-ISME” karya Majid Shafa Taj pada Jumat 8 Juni 2007, dalam rangkaian acara Pesta Buku Jakarta 2007 di Istora Senayan. Hadir 2 pembicara sebagai pembedah: Musa Kadzim, dosen ICAS dan Ekky Eimanjaya, kritikus Film dan pengasuh milis “Musyawarah Burung”.
Musa Kadzim mengungkapkan, Yahudi mempunyai 2 kekuatan utama, industri keuangan dan industri hiburan. Untuk dunia hiburan, film-film Holywood berusaha untuk mengubah pandangan-pandangan agama yang beredar di publik. Pandangan tentang Tuhan, Setan, Takdir, tema-tema sejarah, dsb. Industri film Hollywood memililki andil besar dalam mengubah paradigma tersebut. |
Misalnya, film “Devil’s Advocate” menyuguhkan bahwa manusia tidak bisa lepas dari godaan iblis. Upaya apapun yang dilakukan manusia untuk lepas dari godaan iblis tersebut akan kembali membawa manusia ke dalam jeratan iblis. Pesan dari film itu, menurut penulis buku ini, seakan-akan manusia tidak bisa lolos dari jeratan iblis. Secara fatalistik manusia menjadi terkaman setan. Pandangan seperti ini akan melahirkan pesimisme. Itu adalah salah satu contoh efek film Hollywood. Efek film Hollywood yang lain, menurut Kadzim, adalah mengubah keyakinan keberagamaan seseorang. Dalam film “Da Vinci Code”, sosok Yesus, pondasi dasar agama Katolik yang telah mapan didekonstruksi. Efeknya, jika sesuatu yang sangat fundamental dalam agama telah diruntuhkan, maka semua orang harus meragukan dari ajaran agamanya masing-masing. Pemeluk agama akan dilanda kebingungan, hingga setiap orang meragukan terhadap seluruh ajaran agama yang dianutnya. Tujuan akhirnya, dikarenakan agama diragukan kebenarannya, maka manusia harus mengandalkan pikirannya. Di sinilah inti pesan film itu. Tidak ada lagi yang sakral. Manusia boleh menerobos apa saja. Eki mengatakan, bahwa dari pendekatan perfilman, pada tahun 1996 ada sebuah majalah bernama “Moment Magazine”, yang mengklaim dirinya “majalah khusus bagi orang Yahudi”. Majalah itu di antaranya memuat sebuah laporan utama “Zeus runs Hollywood, so what?” Ada sebuah kesan sombong dan menantang. Di situ dipaparkan secara luas, memang benar Hollywood dikuasai oleh Yahudi. Siapa-siapa saja tokoh besar Yahudi disebutkan juga dalam buku “The Zion Hollywoodisme”. Siapapun yang tidak sejalan dengan tokoh Yahudi tersebut akan disingkirkan. Disebutkan juga dalam laporan utama tersebut, pendiri Miramax Studio adalah tokoh Yahudi. Bahkan, pendiri kota Hollywood sendiri, sebuah kota pusat perfilman, di antaranya adalah tokoh Yahudi. Yahudi memiliki peran dalam perfilman Hollywood dalam tiga cara. Pertama, dalam isi atau cerita film. Disebutkan dalam buku ini, di antaranya film “Matrix”, karya-karya Spielberg, dan sebagainya. Kedua, penguasaan media dalam usaha pembentukan opini publik. CNN, Century Fox, adalah di antara media-media tersebut. Ketiga, dalam pendanaan. Sebagian besar dana pembuatan film Stephen Spielberg didukung penuh oleh Yahudi. Hampir seluruh studio besar perfilman Hollywood dikuasai oleh Yahudi, misalnya Paramount, Century Fox, Walt Disney, dan banyak lagi. Namun, menurut Eki, meskipun itu semua betul, tidak ada yang salah. Film dibuat dengan banyak tujuan. Di antaranya adalah kesenian, yang di dalamnya merangkum berbagai macam seni: teater, musik, arsitektur, tari, dan teknologi. Selain itu, film adalah media aspirasi. Kenyataan lainnya, penguasaan media-media film oleh Yahudi bukan tanpa kerja keras. Wajarlah kini mereka menguasai bidang-bidang yang strategis tersebut dan menguasai opini publik. Satu hal yang bisa dijadikan refleksi, menurut Eki, adalah hampir jarang atau tidak ada orang Asia atau umat Islam yang fokus dan menguasai media-media strategis. Kalau kita mau meng-counter ideologi mereka, kita harus mampu bertanding dengan menunjukkan kualitas yang serupa, terjun langsung ke dunia perfilman. Istilahnya, “melawan karya dengan karya”.[hs] |